Amri dan Sebuah Centong – Kiriman Cerita dari Ocy Indrakila 07/09

Standard

Cerita kiriman dari Ocy Indrakila 07/09 pada Situs Indrakila Jogja http://www.crushcobe.co.cc

Tragedi ini tejadi kira-kira 5 hari setelah kedatanan kami di Jogja. Ehm… Jadi begini ceritanya.

Pagi hari kami keluar dari kos-kosan kami. Maklumlah masalah klasik: perut keroncongan belum sarapan. Terpaksa kami keluar mencari makan. Lima hari di Jogja rupanya belumlah membuat kami bersahabat dengan suasana di dalam kos kami. Tidak seperti biasanya anak-anak kos yang lainnya. Di pojok sana terdapat sebuah kompor. Di dekat kompor ada rak berisi banyak piring, gelas, dan lain-lain. Ah.. Pokoknya segala peralatan masak-memasak yang lengkap. Kalau kami tidak. Bagaimana ya? Sarapan saja kami sangat malas. Tapi kali ini kami sangat lapar. Terpaksa kami beraksi mencari makan.

Sekarang kami sudah tiba di warung nasi favorit kami. Letaknya tidak jauh dari kos kami. Kira-kira 200 meter. Hanya saja jalan menuju ke warung itu cukup berliku. Mungkin itu yang menyebabkannya terasa jauh jika kami menuju ke sana.

“Nasinya mbak 4 piring!”, tanya Amri.

“Minumnya apa?”, jawab pedagang nasi.

“Es Jeruknya 4 gelas!”

Warung itu tak lebihnya seperti warung. Rupanya cukup dengan kursi yang berjajar tidak terlalu panjang membuat kami cukup nyaman. Di muka warung itu ketika kami baru datang sudah terlihat beraneka lauk. Satu per satu duduk. Satu per satu bangun mengambil piring. Lalu dengan girangnya kami menyekop nasi dari magic jar itu.

Oh ya pemirsa! Rupanya warung nasi di Jogja berbeda dari warung-warung yang ada di Lombok. Jika di Lombok kita harus sudi menunggu disuguhkan nasi. Misalnya di warung nasi “Inaq Adah” di taman kota Selong. Pesan nasi 5000 rupiah saja hanya dapat seiprit. Kalau di sini, jangan salah! Walau nasi menggunung di piring, tetap saja hanya membayar tergantung lauknya. Misalnya ayam goreng 3000 rupiah, sayur-mayur hanya 500 rupiah, dan seterusnya. Anda hanya membayar 3500 rupiah. Gila bukan? Bukan!!!!!….

Kita rupanya sudah jauh menyimpang dari topik sebenarnya. Akhirnya kami selesai makan. Selanjutnya prosesi bayar-membayar.

Empat pasang kaki melangkah pergi meninggalkan warung itu. Dengan sedikit melangkah ke barat, kami rupanya tiba di tepian Jalan Gejayan. Seperti biasa. Joe berjalan berduaan. Sementara kami dua kaum teraniaya (Aku dan Amri) yang selalu dicampakkan oleh mereka akhirnya berjalan berdua terpisah dengan mereka.

Baru 50 meter mengudarakan kaki, insiden klasik tercipta: Amri selalu membuat gaduh.

Drueneeeeeng…..teng…teng…

Rupanya sebuah centong milik pengemis disepak juga olehnya. Suasana waktu itu kurang lebih seperti ini:

1. Seonggok uang logam terhempas dahsyat. Ada yang terselip di bawah ban becak. Akhirnya Amri harus membongkok sejenak untuk menariknya.

2. Pedagang pinggir jalan hampir tertawa semua. Betapa tidak? Centong itu terhempas dan berguling tiada henti. Kami bertiga mempercepat langkah seolah tidak mengenalnya.

3. Akhirnya tawa kami berhenti setelah sekian menit memegang perut karena geli akan hal-hal klasik Amri yang selalu tercipta kapan saja dan dimana saja.

Oke….. Seperti itu ceritanya.

(Ditulis oleh Ocy Indrakila 07/09 pada situs Indrakila Jogja http://www.crushcobe.co.cc

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s